Antisipasi Bencana Musim Hujan, BPBD Kota Kediri Siagakan Tim Reaksi Cepat 24 Jam

KEDIRI – Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Kediri meningkatkan kesiapsiagaan menghadapi potensi bencana hidrometeorologi seiring mulai masuknya musim hujan pada November 2026. Sejumlah langkah antisipasi dilakukan, mulai dari pemetaan titik rawan banjir, pembersihan saluran air, hingga menyiagakan personel dan peralatan selama 24 jam.

Kepala Pelaksana (Kalaksa) BPBD Kota Kediri, Joko Ariyanto, mengatakan berdasarkan kajian risiko bencana, Kota Kediri memiliki sejumlah potensi bencana, di antaranya tanah longsor, gempa bumi, banjir, kekeringan, cuaca ekstrem, hingga COVID-19. Namun, bencana yang paling sering terjadi adalah banjir dan cuaca ekstrem seperti angin kencang serta pohon tumbang.

“Yang sering terjadi di Kota Kediri itu banjir dan cuaca ekstrem, seperti angin kencang dan pohon tumbang. Tetapi kita sudah menyiapkan langkah antisipasinya,” ujarnya, Selasa (03/11/2026).

Menurut Joko, terdapat sejumlah titik yang kerap mengalami genangan ketika hujan turun dengan intensitas tinggi selama lebih dari satu jam. Di antaranya Jalan Hasanuddin, Jalan Pattimura, Jalan Patiunus, dan sekitar RS Bhayangkara.

Untuk mengantisipasi kondisi tersebut, BPBD telah berkoordinasi dengan Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (PUPR), Dinas Perumahan dan Kawasan Permukiman (Perkim), serta organisasi perangkat daerah (OPD) terkait. Upaya yang dilakukan meliputi pengurukan di titik rawan, pembersihan saluran drainase, hingga pemangkasan pohon yang berpotensi tumbang.

BPBD juga telah melakukan edukasi dan simulasi kebencanaan kepada masyarakat di sejumlah kelurahan. Selain itu, rencana apel siaga bencana akan digelar dengan melibatkan berbagai unsur untuk memastikan kesiapan seluruh personel dan instansi terkait.

“Kita juga menyiapkan petugas selama 24 jam, termasuk logistik dan peralatan seperti perahu dan perlengkapan evakuasi. Jadi ketika terjadi bencana, teman-teman bisa langsung bergerak,” jelasnya.

Joko menyebut, BPBD menyiagakan 12 personel Tim Reaksi Cepat (TRC) yang bertugas secara bergantian selama 24 jam. Masyarakat yang membutuhkan bantuan kebencanaan dapat menghubungi layanan darurat 112.

Selain kesiapan personel, BPBD juga melakukan pengecekan terhadap alat Early Warning System (EWS) yang berada di sungai kedak. Hasil pengecekan menunjukkan peralatan tersebut masih berfungsi dengan baik.

Jika terjadi kenaikan debit air, petugas akan segera menyampaikan informasi kepada masyarakat sekitar melalui pengeras suara agar warga dapat melakukan langkah antisipasi lebih awal.

Joko mencontohkan, saat hujan deras mengguyur lebih dari dua jam, ketinggian air di salah satu lokasi pemantauan sempat meningkat hingga mendekati permukaan daratan. Setelah dilakukan pengecekan, petugas menemukan saluran air tersumbat sampah. Sumbatan tersebut langsung dibersihkan sehingga aliran air kembali lancar.

Kondisi serupa terjadi tahun lalu di kawasan Perumahan Permata Biru. Setelah dilakukan pemeriksaan bersama instansi terkait, petugas menemukan sumbatan pada saluran yang menuju aliran utama.

“Kita berharap masyarakat juga ikut berperan. Minimal setiap keluarga membersihkan saluran air di sekitar rumah masing-masing agar tidak terjadi penyumbatan,” imbaunya.

BPBD juga terus memantau informasi prakiraan cuaca dari BMKG. Informasi potensi hujan lebat maupun angin kencang akan diteruskan kepada petugas dan instansi terkait sebagai langkah kesiapsiagaan.

“November diperkirakan menjadi awal masuknya musim penghujan, meski intensitas hujan belum merata. Memasuki Desember, hujan diperkirakan mulai turun lebih teratur sehingga kewaspadaan terhadap potensi banjir dan cuaca ekstrem perlu terus ditingkatkan,” pungkasnya.

Related posts

Leave a Comment